Merajam mimpi

Tepekurku untuk merangkul damba.  Malam-malam yang kusetubuhi tak menyisakan apa-apa. Hanya merajam mimpi yang terlantar di ujung pagi. Sia-sia rasanya. Gulana mendakwa. Hampa menjelma. Kosong meraja.

Tercekatku dari lamunan. Kala kusadar, sapaku tertatih mengeja galau. Terlupa adamu, yang mulai menancapkan gelisah di pasir gurun. Bukan maksud­ku berlari pergi, hanya saja waktu terus menjepitku tanpa ampun….

Dan, kusadari…kata-kata telah mati dalam bejananya. Cinta tak lagi membuka cakrawala untuk mengetuk pagi.  Menjamah tanah yang memamah kenangan tuli, menyapa langit yang bersemikan ilusi. Aku…? Sendiri juga, finally.

One thought on “Merajam mimpi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s