Waktu itu…

Mungkin waktu terlalu sibuk untuk mengingat kita. Atau,  kita yang sering melupakannya. Terlalu bernapsu dan terburu-buru ingin mencapai garis akhir padahal baru saja kita beranjak —memulainya.

WAKTU. Mungkin satu-satunya obat untuk penyembuhanku. Berharap ia melahap sedih-lirih ini dan menghilangkannya dalam kesenyapan masa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s