Harapan yang terbelah

Haruskah kita menyalahkan nurani kita yang telah mengempaskan napas kegelisahan untuk setiap acuh yang telah terpendam sekian lama?

Nurani adalah diri kita. Kita tidak dapat berdusta dan membohongi diri kita sendiri.

Biarkan ia mengalir dan mengalir, berkelok dan menyimpan keteduhannya. Keteduhan yang melelapkan, sampai ia tiada.

Mungkin lebih baik dengan melenyapkannya. Saling membenci dengan mengingkari nurani kita.

Apakah aku terlambat? Ini memang tampak lebih baik. Kita mengakhirinya tapi tidak untuk memaksa kita mengakhirinya.

Biarlah ia hilang dalam kesenyapan masa dengan sendirinya. Seperti harapan itu dulunya tidak ada!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s