Re: I heart you

Aku berpikir untuk tidak berpikir tentangmu. Maaf, aku tak mampu.

Aku berpikir untuk tidak menantimu. Maaf, aku menunggu.

Aku berpikir untuk tidak mencintaimu. Maaf, aku telanjur jatuh cinta; kepadamu.

Aku berpikir untuk tidak terburu-buru. Maaf, aku tak mampu untuk tidak tergopoh merindukanmu.

Aku pikir, rasaku telah bugil bulat: aku mencintaimu tanpa ini itu.

Karena aku mencintaimu, benar atau salah!

 

Posted in Love & Life | Tagged , , , | Leave a comment

Kepada pagi dan kenangan

Kepada pagi aku bercerita. Tentang kita yang memenuhi bejana kenangan. Serpihan keindahannya mengusik harapan itu tumbuh lagi meskipun dalam ketidakpastian penantian. Biarkan saja, setidaknya ini berarti; entah sebagai pelipur mimpi atau sekadar ilusi di hamparan senja.

Posted in Love & Life | Tagged , , , | 1 Comment

Catatan 13 Februari 2012

Dear M, 

Hari dan tahun yang berulang, menyisir tak henti di garis waktu. Dan, aku ingin berbahagia berulang-ulang bersamamu.

Tak terbilang satu cintaku yang memanah palung hatimu. Tak terbilang setiap rinduku yang meletupkan napas keindahan di tapal batas penantianku;  menunggumu.

Di pusat badai rasaku, kamu adalah perjalanan ketabahan yang menguras kewarasan, juga ingkar logika. Satu detik yang berlalu adalah buncah getar yang gemetar; demi dan atas nama keakuan perasaan; utuh tulus untuk bersamamu.

Maka, peluklah aku sekarang, dan jangan lepaskan! Karena hatiku telah jatuh tepat sasaran; kepadamu. Bersamamu, akan kucari bahagia itu.

 

Posted in Love & Life | Tagged , , | Leave a comment

Bahagia itu, kamu.

Dear #M,

Karena tak butuh satu alasan pun untuk [tidak] berbahagia saat aku jatuh cinta, dan seterusnya jatuh cinta [kepadamu].

Sejak kau izinkan aku tinggal di hatimu, tak ada lagi tempat yang kutuju: selainmu.

Di sudut hatimu aku ingin mengaduh bahagia, tanpa jera.

Di sudut hatimu, aku ingin tinggal selamanya. Menuliskan cerita bahagia, tanpa jeda.

Jelas sudah! Tak perlu kucari bahagia lagi; karena di kamu, bahagiaku itu.

 

Posted in Love & Life | Tagged , , | 3 Comments

Dear M: Kamulah arti itu

Hilang arti adalah ketika dalam dekat yang rapat kita tak saling memiliki rasa kebersamaan itu.

Hilang arti adalah ketika ketiadaanmu tak lagi menggelitik getar rindu.

Hilang arti adalah … tanpamu.

Dan, sungguh berarti … bisa mencintaimu;

karena kamu lah arti dari setiap bahagiaku yang terendap, dan dari setiap sedihku yang terisak.

 

Posted in Love & Life | Tagged , , , | 1 Comment

Aku memanggilmu, M

Kepada #M

Dengan kalimat apa aku menuliskan arti hadirmu? Sebagai debar yang tiba-tiba gemetar untuk mengharapmu atau rindu yang diam-diam menggebu?

Sudah lama aku membiarkan rasaku diam terjaga dalam kesenyapannya; sampai perjumpaan kedua menggelitik getar itu lagi, telak. Maaf, jika itu terjadi begitu saja.

Apakah aku terlambat; bahkan sebelum sempat kubaca hati [mu] ? Sungguh, aku tak menginginkan itu, karena esok dan seterusnya aku akan menunggu kerlingan manja, dan senyuman malu-malu yang kau titipkan pada arakan senja, seperti kemarin.

 

Posted in Love & Life | Tagged , , | 1 Comment

Gerimis di Bulan Januari

Dear you,

Sejak napas cinta kau tiupkan, dan menghunjam jantung, itulah awal bahagiaku. Tertulis di wajah pagi, dan kening senja.

Dan,

Di setiap pagi,  tulisan kebahagiaan itu menyusup embun tanpamu; hanya aku, ternyata.

Datang dan pergi, begitulah masa lalu membiru-hitamkan tiap lembaran cerita. Dan, kamu tetap berada diantaranya, seperti pagi ini.

Dan,

Di tempat rebahku kini, kamu berpelangi. Selamat pagi, untukmu  —entah untuk yang ke berapa kali. Yang pasti, aku ingin kembali lagi kepadamu, suatu hari nanti.

(Moammar Emka dalam Dear You, halaman 379) 


Posted in Love & Life | Tagged , , | 3 Comments